globalnin

bluehost india coupon code

godaddy india coupon

pizzahut offers

Bukan Cuma Anak SMA dan SMP, di Cileungsi Bocah SD pun Ikut Tawuran

CILEUNGSI Tawuran merupakan salah satu penyakit para pelajar yang kerap kali terjadi di Kabupaten Bogor, dan sampai hari ini, instansi pendidikan masih belum bisa mengantisipasi bentrok antar pelajar ini. Mirisnya, tawuran belakangan ini di wilayah Cileungsi tawuran tak hanya terjadi dikalangan pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), siswa Sekolah Dasar (SD) pun mulai ikut-ikutan melakukan aksi tawuran ini.

Seorang siswa kelas IV di salah satu SD di daerah Cileungsi yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan, aksi tawuran ini biasanya dilakukan oleh anak-anak kelas V dan kelas VI. Biasanya pemicunya hal yang sepele, bisa karena saling mengejek sekolah, dan lain sebagainya.

“Biasanya si cuma karena ejek-ejekan sekolah masing-masing,” katanya kepada Publik Bogor, (27/11).

Ia menjelaskan, setelah salain mengejek, bocah SD ini biasanya saling menantang, dan janjian bertemu disuatu tempat untuk mengadu otot.

“Kalau sudah janjian seperti itu, ada yang membawa senjata buat tawuran, seperti gir motor yang ikat pakai tali, bambu, dan lainnya,” jelasnya.

Tak hanya itu, sambunga, nama sekolah yang ditulis di tempat umum yang dicoret-coret oleh sekolah lain pun menjadi pemicunya. Bahkan, para alumni SD tersebut yang kini duduk di bangku SMP pun kadang ikut campur untuk mendorong anak-anak SD tawuran.

Melihat kondisi ini, Ketua Bidang Pendidikan Gandoang Pemuda Bersatu (GPS) Debi Firdaus mengungkapkan, tawuran dikalangan pelajar SD ini harus segera atasi oleh instansi pendidikan. Karena, jika dibiarkan begitu saja, maka bukan tidak mungkin generasi bangsa ini akan hancur.

“Kalau sejak kecil saja sudah berani berbuat seperti itu (tawuran. red) bagaimana jika sudah sudah besar,” ungkapnya.

Debi yang juga seorang aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menerangkan, fenomena sosial ini menunjukkan ada yang salah dalam sistem pendidikan, bukan hanya pengaruh lingkungan, dan pengawasan orang tua.

“Bisa kita bandingkan, dahulu yang namanya tawuran itu hanya ada di kalangan pelajar SMA, dan SMP, sedangkan sekarang anak SD pun sudah ikut-ikutan tawuran,” terangnya.

Ia berharap, fenomena sosial ini segera ditangani dengan serius oleh pemerintah, dan tentunya dengan dorongan dari masyarakat, agar generasi penerus bangsa ini dapat membangun bangsa kearah yang lebih baik nantinya.

Wartawan : Daus

Check Also

Polsek Cisarua Berhasil Ringkus Komplotan Curanmor

CISARUA – Polisi berhasil menangkap komplotan pencuri kendaraan bermotor (curanmor) yang kerap beraksi di wilayah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *