globalnin

bluehost india coupon code

godaddy india coupon

pizzahut offers

Doa Santri Ponpes Salafiyah di Bumi Tegar Beriman

Lihatlah Kobong Kami

Oleh: H. Ade Ruhandi S.E (Jaro Ade)

Calon Bupati Bogor Periode 2018-2023

Pondok pesantren (ponpes) salafiyah merupakan sesuatu yang tak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Bogor. Yah, pesantren ini hampir ada disetiap kampung maupun pelosok di Bumi Tegar Beriman. Bahkan, saking banyaknya pondok pesantren salafi yang masih mempertahankan dan melestarikan metode pembelajaran secara tradisional, seolah menjadi alternatif hingga pilihan hidup bagi sebagian orang dalam mempelajari ilmu agama secara konservatif.

Pondok pesantren salafiyah memang memiliki ciri khas tersendiri dalam memberikan pemahaman tentang Islam kepada para santrinya, terutama dalam mengkaji kehidupan. Bagaimana arti tentang hidup sesuai dengan syariat Islam, dan tetap sederhana meski hidup berkecukupan.

Pola pembelajaran yang begitu dinamis namun tetap mempertahankan tradisi-tradisi Islam, membuat para jebolan pondok pesantren salafiyah begitu terkenal dengan kerendahan diri dan kedalaman ilmu agamanya. Namun, ditengah perkembangan zaman dan modernisasi pendidikan yang kini menyentuh hingga ke pelosok pedesaan, acap kali merubah pola pikir (mindset) masyarakat dalam menyekolahkan buah hatinya ke lembaga pendidikan formal. Kebutuhan zaman, terkadang menjadi alasan orang tua lebih memilih memasukan buah hatinya, dan ini membuat keberadaan ponpes salafiyah semakin tergeser, bahkan tutup.

Begitu unik dan sederhananya, setau saya metode belajar mengajar pesantren salaf terbagi menjadi dua yaitu, metode sorogan wetonan dan metode klasikal. Metode sorogan adalah sistem belajar mengajar di mana santri membaca kitab yang dikaji di depan ustadz atau kyai. Sedangkan sistem weton adalah kyai membaca kitab yang dikaji, sedang santri menyimak, mendengarkan, dan memberi makna pada kitab tersebut.

Metode sorogan dan wethonan merupakan metode klasik dan paling tradisional yang ada sejak pertama kali lembaga pesantren didirikan. Adapun metode klasikal adalah metode sistem kelas yang tidak berbeda dengan sistem modern. Dan semua bidang studi yang diajarkan mayoritas adalah keilmuan agama.

Masyarakat awam pun begitu mudah mengenali para santri dari pondok pesantren salafiyah yang terkenal begitu sederhana dalam segi penampilan, namun begitu dikagumi dan sering para ulama pun mengakat jempolnya untuk keilmuan para santri salafi.

Seperti, ciri khas kultural yang terdapat dalam pesantren salaf, antara lain para santri lebih hormat dan santun kepada kyai, guru dan seniornya. Dan, santri senior tidak melakukan tindak kekerasan pada yuniornya. Hukuman atau sanksi yang dilakukan biasanya bersifat non-fisikal seperti dihukum mengaji atau menyapu atau mengepel, dan lain sebagainya.

Bahkan, dalam keseharian para santri salafiyah selalu memakai sarung dengan mengenakan peci hitam di kepalanya, dan rata-rata ponpes salafiyah berafiliasi kultural ke Nahdlatul Ulama (NU) dengan kekhasan fikih bermadzhab Syafi’i, akidah tauhid bermadzhab Asy’ariyah atau Maturidiyah, dan mengajarkan ilmu tasawuf seperti karya Al-Ghazali dan lainnya. Amaliyah khas seperti shalat tarawih 20 rakaat plus 3 rakaat witir pada bulan Ramadan, membaca qunut pada shalat Subuh, membaca tahlil pada setiap malam Jumat, peringatan Maulid Nabi atau melakukan pembacaan kitab-kitab maulid, peringatan Isra’ Mi’raj, dan semacamnya. Dan yang paling mudah, adalah sistem penerimaan santri tanpa seleksi. Setiap santri yang masuk langsung diterima. Sedangkan penempatan kelas sesuai dengan kemampuan dasar ilmu agama yang dimiliki sebelumnya.

Dan hampir mayoritas masyarakat di pelosok pedesaan seperti keluarga saya yang petani, pasti anak-anaknya dimasukan ke ponpes salafiyah. Tidak adanya patokan harga untuk menuntut ilmu agama di ponpes salafiyah, menjadi salah satu alternatif  bagi saya yang lahir dari ayah seorang petani dan ibu seorang guru ngaji.

Padahal, keberadaan ponpes salafiyah memiliki andil besar dalam membentuk karakter masyarakat. Tak hanya itu, keberadaan ponpes salaf saat era penjajahan maupun pasca kemerdekaan begitu besar andilnya dalam memerdekakan bangsa ini.

Saat ini pun, di era kepresidenan Joko Widodo para santri maupun masyarakat umum setiap tanggal 22 Oktober selalu memperingati  jasa para santri yang dipelopori oleh KH Hasyim Ashari. Sosok ulama fenomenal yang pernah dimiliki bangsa ini pu mengeluarkan seruan bahwa jihad membela tanah air, hukumnya fardhu ain alias wajib bagi setiap orang. Atas dasar itulah para santri maupun ulama, kyai, dan habaib berjuang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah.

Keberadaan ponpes salafiyah yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Bogor, saat ini seolah-olah sudah sampai pada titik nadir. Bangunan yang rata-rata jauh dari kata layak, bahkan banyak yang nyaris roboh menjadi keprihatinan bagi saya yang juga pernah menuntut ilmu agama sekaligus mempelajari tentang arti kehidupan dari salah satu ponpes salafiyah ini.

Padahal, Kabupaten Bogor dijuluki sebagai kota santri, dan saya yakin kata Bumi Tegar Beriman berasal karena banyaknya pondok pesantren di Kabupaten Bogor. Oleh karena itu, saya menjanjikan dan haqul yakin bisa merealisasikan dengan memberikan bantuan kepada setiap ponpes salafiyah di Kabupaten Bogor senilai Rp 200 juta/tahun.

Dan mungkin bagi setiap orang yang membaca salah satu pilar yang saya gemborkan ini sesuatu yang mustahil, namun jika saya dipercaya menjadi Bupati Bogor periode 2018-2023, semua itu bisa terealisasikan.

Dari mana uang sebanyak itu, dengan jumlah pondok pesantren yang lebih dari 1531 berdasarkan data dari Kementrian Agama Kabupaten Bogor tahun 2016. Mungkin pertanyaan ini pasti muncul dibenak masyarakat yang membaca bahkan mendengar dari para tim sukses Jaro Ade maupun dari mulut saya sendiri.

Buat saya itu semua cukup sederhana untuk menterjemahkan dan mewujudkan bantuan ini, karena Kabupaten Bogor memiliki PAD yang cukup besar, terlebih tercatat lebih dari 1000 perusahaan yang bergerak di berbagai bidang berada di Kabupaten Bogor.

Dan setiap perusahaan wajib mengeluarkan program CSR demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Hal ini sesuai dengan  Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (“UUPT”) serta Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan Perseroan Terbatas (“PP 47/2012”).

Jadi, dari semua keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan wajib hukumnya untuk membatu mensejahterakan masyarakat sekitar. Nah, atas dasar itulah saya akan mewajibkan kepada para pengusaha dari berbagai bidang untuk menyisihkan keuntungan untuk membantu pendidikan pondok pesantren salafiyah di Kabupaten Bogor.

Baru nanti, pemerintah Kabupaten Bogor melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) akan menambal kekurangannya.

Yang jelas akan kita data dulu pondok pesantren salafiyah yang wajib dibantu, karena itu merupakan komitmen saya sebagai salah satu jebolon santri dari Pondok Pesantren Salafiyah Nurul Mubtadi’in di Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor.(*)

Check Also

  Ballack Bakal  Calon Direktur Olahraga Chelsea

  PUBLIKBOGOR –  Mantan gelandang Chelsea, Michael Ballack, dirumorkan menjadi direktur olahraga Chelsea mulai musim …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *