globalnin

bluehost india coupon code

godaddy india coupon

pizzahut offers

Pengungsi Afganistan Dilatih Karate

CISARUA – Lebih dari tiga tahun, ribuan pengungsi Afghanistan telah terdampar di kawasan terpencil di Cisarua, Kabupaten Bogor. Mereka adalah para korban dari konflik yang berkepanjangan di negara asalnya.

Namun kehidupan saat ini, rupanya tidak jauh lebih baik dari sebelumnya karena pemerintah Indonesia tidak dapat memberikan izin untuk mereka bekerja atau bersekolah mengingat status hukum mengenai penanganan pengungsi belum ada. Sementara itu pihak UNHCR belum memberikan jaminan kepastian kepada mereka sebagai negara ketiga.

Untuk menurunkan tingkat depresi tersebut dengan melalui bantuan finansial LSM, beberapa remaja Afghanistan peduli pendidikan membentuk pusat pendidikan sendiri. Karena tidak diperkenankan bersekolah di sekolah Indonesia dan beberapa Learning Centre pun sudah tersedia di kawasan Cisarua untuk menyikapi agar anak-anak mereka tidak putus sekolah.

Ada hal yang cukup menarik dari pendirian Learning Centre ini salah satunya adalah Klub Karate Shotokan untuk para pengungsi Afghanistan di Cisarua (Cisarua Refugee Shotokan Karate Club) yang dibina pengungsi atlet Karateka Internasional Afghanistan, Meena Asadi beserta suaminya Ashraf Jawadi.

“Selain untuk mengisi waktu luang dalam masa pengungsian yang tidak menentu, tujuan lain Meena Asadi mendirikan klub ini adalah menghilangkan stres dan trauma serta memupuk tingkat disiplin anak-anak yatim piatu pengungsi Afghanistan pasca konflik berkepanjangan dengan melalui olahraga agar senantiasa berpikir optimis dalam menghadapi segala tantanga,” ujar salah satu pembina, Anthoni Chandra.

Menurut Anthoni, sebagai seorang Karateka bertaraf internasional, tentu saja Meena Asadi memiliki idealisme baik bagi dirinya maupun bagi murid-muridnya untuk dapat berpartisipasi di ajang turnamen di Indonesia, namun hal itu tentu tidaklah mudah mengingat mereka berstatus pengungsi.

“Dengan keadaan seperti itu, Meena dan ribuan pengungsinya adalah korban di negaranya dan sekarang tersekat di kampung kecil bagaikan tahanan.

Meena Asadi adalah sosok yang optimis dan tidak pernah berhenti untuk bermimpi,” ucap Anthoni.

Lebih lanjut, ia mengatakan mereka bisa berpartisipasi dalam sebuah turnamen dan hal tersebut terealisasikan di ajang kejuaraan terbuka Ciomas Cup Maret 2018 lalu. Cisarua Refugee Shotokan Karate Club (CRSKC) berafiliasi dengan Dojo Shotokan GOR Pajajaran dan secara otomatis Meena Asadi beserta kawan-kawannya berkiprah mewakili Dojo GOR Pajajaran.

“Di ajang open tournament ini mereka berhasil memperoleh medali, tentu saja para pengungsi Afghanistan hal tersebut merupakan satu langkah kemajuan dan pengalaman yang sangat berharga,” kata Anthoni.

Anthoni yang juga merupakan salah satu interpreter dalam hal itu, dia memiliki peran yang cukup penting. Ia menjembatani antara Dojo GOR Pajajaran dengan CRSKC sekaligus sebagai pendamping tim CRSKC saat turnamen berlangsung.

Ia mengaku awalnya sulit sekali untuk merealisasikannya mengingat kondisi karakter dan budaya serta persiapan finansial CRSKC sangat minim untuk mengikuti turnamen perdana bagi mereka, namun semua kesulitan tersebut dapat teratasi meskipun tidak seluruhnya.

“Hal yang patut mendapat acungan jempol adalah para Karateka pengungsi Afghanistan yang mayoritas anak-anak yatim piatu korban konflik, “haus” akan prestasi namun di lain pihak minim donasi. Dan hal yang terpenting adalah semua itu tentu saja berkat peranan Ketua INKAI Cabang Kota Bogor yang telah membuka kesempatan kepada CRSKC untuk dapat berpartisipasi,” tandasnya.

Wartawan : Mul

Check Also

Paslon No 5 Laporkan 10 Penyelenggara Pemilu ke DKPP RI

CIBINONG – Polemik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Bogor yang dilaksanakan tanggal 27 Juni 2018 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *