globalnin

bluehost india coupon code

godaddy india coupon

pizzahut offers

Diduga Lakukan Pungli, Guru SDN Gandoang 2 Terancam Penjara 20 Tahun

CILEUNGSI – Protes wali murid kelas 2 Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gandoang 2 terhadap guru yang mengajar anak-anaknya berujung perlakuan diskriminatif yang dilakukan oleh wali kelas terhadap dua orang siswanya.

Perlakuan diskriminatif tersebut terjadi beberapa hari usai wali murid kelas 2 berkumpul, dan bertemu dengan kepala sekolah untuk mengadukan tingkah laku salah seorang guru yang diduga melakukan pungli, dengan menerapkan denda uang sebesar Rp10 ribu terhadap siswa yang lupa membawa buku lembar kerja siswa (LKS), maupun salah menggunakan seragam.

Salah satu orang tua siswa, Resih mengatakan, perlakuan diskriminatif tersebut terjadi pada anaknya, dan hal ini sangat disayangkan olehnya.

“Anak saya dan satu siswa lainnya dipanggil oleh wali kelasnya, kemudian wali kelas tersebut mengembalikan uang les menari yang dimasukkan kedalam amplop,” katanya kepada Publik Bogor, (3/12).

Parahnya lagi, jelasnya, buah hatinya itu di foto sambil disuruh memampangkan amplop tersebut, dan disuruh tanda tangan oleh wali kelasnya sebagai bukti bahwa uang les menari tersebut telah dikembalikan.

“Ini yang membuat saya jengkel, kenapa anak saya sampai di foto dan disuruh tanda tangan seperti itu. Kalaupun mau mengembalikan uang les menari, kenapa tidak kami sebagai orang tuanya yang dipanggil, dan langsung diberikan pada orang tuanya,” jelasnya dengan nada kesal.

Padahal, tutur Resih, dalam musyawarah yang berlangsung antara wali murid dengan kepala sekolah tidak ada kesepakatan untuk mengembalikan uang les menari.

“Kesepakatannya adalah komite kelas harus menanyakan pada setiap wali murid kelas 2, apakah uang les menari itu mau di kembalikan atau diikhlaskan untuk guru les nya. Ini tiba-tiba anak saya yang di diskriminasi seperti ini,” tuturnya.

Tak hanya itu, sambungnya, anaknya pun sampai-sampai disindir oleh wali kelasnya dengan kata-kata yang melarang untuk ikut kegiatan renang.

“Masa wali kelas itu sampai bilang kalau anak saya tidak usah ikut renang, karena sudah pintar. Ini merupakan tindakan yang malah menghancurkan mental anak saya, dan ini sudah jelas tindakan diskriminasi,” sesalnya.

Dirinya meminta, agar kepala SDN Gandoang 2 bertindak tegas, dan segera memberikan sanksi pada guru tersebut.

“Saya minta kepala sekolah harus berani untuk merekomendasikan guru tersebut dimutasi dari SDN Gandoang 2. Apalagi guru itu sudah sering membuat kesalahan yang fatal sejak beberapa tahun yang lalu, dan selalu diulangi,” pintanya.

Sementara itu, salah seorang aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Andika Maulana Dudesy mengungkapkan, praktek denda berupa uang yang telah dilakukan oleh salah seorang guru di SDN Gandoang 2 merupakan pungli alias pungutan liar yang mesti ditindak.

“Jika guru tersebut merupakan pegawai negeri sipil (PNS) maka hal ini bisa dikenakan pasal 423 KUHP dengan ancaman hukuman penjara maksimal enam tahun,” ungkapnya.

Dirinya membeberkan, bahkan jika memungkinkan guru tersebut pun bisa saja dijerat dengan pasal 12e UU no 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

“Jika memenuhi unsur pasal 12e UU Tipikor ini, maka ancaman hukumannya penjara minimal empat tahun, dan maksimal 20 tahun,” bebernya.

Menurut Andika, hal ini tidak boleh didiamkan begitu saja, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bogor harus segera bertindak untuk menyelamatkan para siswa di SDN Gandoang 2.

“Kalau Disdik terlalu lama mengambil sikap, maka hal ini akan menciptakan iklim pendidikan yang tidak baik di SDN Gandoang 2,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, salah seorang wali murid yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan, guru yang mengajar di kelas 2 tersebut selalu meminta uang pada murid-muridnya dengan berbagai macam alasan, mulai dari mewajibkan les tari pada seluruh siswanya, les mata pelajaran, hingga denda untuk siswa yang salah memakai seragam sekolah maupun salah membawa Lembar Kerja Siswa (LKS).

“Yang anehnya, kenapa semua siswa yang diajarnya tersebut wajib untuk mengikuti les menari, padahal les menari itu kegiatan ekstrakulikuler yang tidak diwajibkan. Parahnya lagi, jika siswa telat membayar Lestari sebesar Rp2 ribu perminggu, tidak boleh dulu pulang, ini namanya diskriminasi terhadap anak didik,” katanya.

Ia menjelaskan, les mata pelajaran pun sangat tidak jelas, karena tidak ada jam pelajaran tambahan. Siswa hanya diberikan lembaran foto copy, serta harus membayar Rp35 ribu.

“Yang lebih parah lagi, jika anak didik salah membawa LKS, maupun salah menggunakan seragam sekolah pada hari tertentu akan dikenakan denda sebesar Rp10 ribu, saya kira hal ini terindikasi sebagai pungli,” jelasnya.

Menurutnya, wali murid kelas 2 sudah berkumpul, dan bermusyawarah dengan kepala SDN Gandoang 2 pada hari Sabtu (24/11) kemarin, namun kepala sekolah tidak memberikan solusi yang diinginkan oleh para wali murid.

“Kami ingin guru tersebut segera dimutasi, karena sejak dulu guru tersebut selalu membuat masalah di SDN Gandoang 2,” tuturnya.

Senada, Salah seorang warga Kampung Gandoang, RT 02/04, Desa Gandoang, Kecamatan Cileungsi, Dede Abdillah mengungkapkan, guru tersebut memang sejak lama selalu menimbulkan masalah di sekolah.

Bahkan, sambungnya, enam tahun yang lalu, saat anaknya duduk di bangku kelas 5, guru itu memakai uang tabungan siswa sehingga para siswa tidak bisa mengambil uang tabungan saat kenaikan kelas.

“Kalau gurunya selalu mencontohkan hal yang tidak baik, bagaimana dengan nasib anak didik nantinya. Karena guru adalah panutan dari siswanya,” ungkapnya.

Dirinya berharap, kepala sekolah bisa mengambil keputusan yang tegas dengan memutasi guru tersebut. Apalagi, sanksi berupa teguran sudah diberikan pada guru tersebut sejak beberapa tahun yang lalu, namun guru itu tak kunjung jera, dan selalu membuat masalah.

“Semua wali murid sudah cukup sabar terhadap kelakuan guru tersebut, dan kali ini guru itu harus dimutasi, agar tak mencoreng nama baik sekolah,” harapnya.

Sementara itu Kepala SDN Gandoang 2 Madsoleh berkilah, bahwa tidak ada pungutan pada setiap anak yang lupa bawa LKS, hanya diberikan sanksi berupa mengerjakan tugas.

“Untuk siswa yang lupa membawa LKS tidak dikenakan denda, hanya diberikan sanksi berupa tugas tambahan,” kilahnya.

Dirinya pun tak mengakui, mengenai adanya uang les pelajaran tambahan yang harus dibayar oleh setiap siswa sebesar Rp35 ribu.

“Uang les yang sebesar Rp35 ribu itu juga tidak ada disini,” tandasnya.

Wartawan : Daus

Check Also

Warga Harkat Jaya Satu Komando Untuk Aan

SUKAJAYA – Satu Komando, mungkin dua kata itu mewakili masyarakat Harkat Jaya yang pada malam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *