globalnin

bluehost india coupon code

godaddy india coupon

pizzahut offers

Dinkes Kab. Bogor dan BPJS Tutup Mata, Terkait Masalah di RS Assalam

BOGOR – Pagi 11 Februari 2019, Jamkeswatch Bogor mendapatkan laporan dari salah seorang warga Kampung Kebon Kelapa, RT 03/04 Desa Cimandala, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, ingin melakukan proses kelahiran di Rumah Sakit Ibu dan Anak didaerah Cimandala, Sukaraja, Kabupaten Bogor.

Namun, pasien mendapatkan sedikit kendala karena kartu BPJS Kesehatan miliknya telah non aktif karena menunggak premi. Pasien datang ke rumah sakit ibu dan anak Assalam 10 Februari 2019, sekitar pukul 21:00 WIB. Dan pihak rumah sakit meminta deposit awal sebesar 12 juta rupiah hingga 15 juta rupiah.

“Prediksi umum yaitu masuk perawatan kelas satu dengan jaminan untuk biaya anak baru bisa dilakukan tindakan. Akan tetapi setelah melakukan lobby dengan pihak rumah sakit, deposit hanya 6 juta rupiah” ujar Deska kakak ipar pasien kepada awak Media, belum lama ini.

“Setelah uang deposit dibayarkan, pasien langsung masuk ke ruangan operasi sekitar pukul 00.55 WIB. Hingga pada akhirnya, pasien kehilangan nyawanya di ruangan operasi sekitar pukul 05.45 WIB” tambah Deska.

Mendengar laporan tersebut, Heri Irawan selaku Koordinator Daerah Jamkeswatch Bogor, langsung melakukan komunikasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan BPJS Kesehatan Kabupaten Bogor, untuk duduk bersama dengan pihak keluarga almarhumah serta pihak Management RSIA. Assalam.

Sekitar pukul 14.00 WIB, semua perwakilan, baik dari pihak keluarga almarhumah, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, BPJS Kesehatan dan Relawan Jamkeswatch Bogor di terima oleh Management RSIA. Assalam. Untuk menjelaskan kronologi, tentang apa dan bagaimana, pasien ibu yang akan melahirkan dan calon bayinya, bisa meninggal dunia di RSIA Assalam.

“Saya kecewa dan sangat menyayangkan atas terjadinya hal ini, dan saya harap tidak ada lagi korban lain dengan kasus yang sama, rumah sakit tidak boleh minta uang dimuka kepada pasien” tegas Ketua DPD Jamkeswatch Bogor Heri Irawandi RSIA Assalam Cibinong, Senin 11 Februari 2019 kemarin.

Hal itu disampaikan langsung kepada pihak Management RSIA Assalam, Heri datang bersama rombongan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan BPJS Kesehatan usai mendapatkan laporan dari salah seorang Relawan Jamkeswatch Bogor, Arief Rachman

“Masih banyak yang kurang dan masih kurang transparan. Bukan hanya soal BPJS dan uang muka saja , tapi penyebab tidak di ceritakan, dari jam 00:20 sampai kehilangan nyawanya pasien jam 05:45 kenapa tidak diceritakan,” kesalnya.

Ia juga menambahkan, Pihak RS yaitu dokter Cholid selaku wakil derektur RS Assalam mengatakan, bahwasannya pasien belum di masukan obat apapun dikarenakan pusing lalu tidak lama kejang sampai berbusa dan akhirnya meninggal, perlu diketahui disini terlihat dari kronologi proses sebelum meninggal tidak bisa diterima akal sehat yang diketahui pasien tidak ada Histori Epilepsi dan darah tinggi, dari jam 00.20 ada waktu banyak sampai jam 5.45 tindakan hanya pemberian oksigen untuk pasien bahkan untuk menyelamatkan bayinya pun tidak dilakukan sampai pada akhirnya jam 5.45 pasien meninggal bersama bayinya,” kesalnya.

“Cerita disitunya kenapa dihilangkan? Apa seperti itu etika dokter ketika di sumpah untuk profesinya dan apa seperti itu visi dan misinya ketika rumah sakit diberika ijinnya oleh kemenkes dan dinkes??,” tegasnya.

Wartawan : Die

Check Also

Bima Arya dan Habib Salim Segaf melayat ke Alm. Ustaz Arifin Ilham

BABAKANMADANG – Wali Kota Bogor Bima Arya dan Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) …

One comment

  1. saya juga pernah mendapatkan pelayanan yg kurang baik dari rs assalam, istri saya akan melahirkan, sbelumnya saya membawa istri saya kebidan tempat istri saya biasa melakukan control, lalu bidan menyatakan klo istri saya harus hanya bisa melakukan persalinan dengan cara di cesar, dikrenakan dibidan tidak ada alat yg memadai akhirnya bidan memberikan rujukan, istri sya terdaftar di Bpjs yg faskes nya tertuju di klinik assalam, akhirnya sya dpt rujukan ke rs. assalam.. tpi sampai disana istri sya diharuskan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu oleh Dr. Ibnu.. tpi apa yg saya dpt, disitu Dr. Ibnu bertanya “sbelumnya ibu control dmna?” dibidan dok.” jawab istri saya. lalu sperti enggan atau terlihat sperti menolak dokter menjawab,” ya sudah, skrng ngapain nglahirin ya disini, nglahirin nya disana lah, dibidan.. dan stelah itu tidak ada tindakan apa2 lgi. sya menunggu cukup lama sampai sya bertanya ke kasir tentang bagaimana ini istri saya.. tpi mereka malah menyalahkan saya krna harusnya tdi jgn bilang klo sya control dibidan. sya pun melakukan komplen ke klinik. dan mereka cuma minta maaf dan akn menegur pihak assalam tentang hal ini lalu memberikan saya rujukan ke rs. yg berbeda.. kesimpulannya para pembaca pasti tau, apa harus sperti itu sikap seorang dokter kpd pasiennya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *