globalnin

bluehost india coupon code

godaddy india coupon

pizzahut offers

Benang Lama Untuk Kadisdik Kab. Bogor Yang Baru

Pasca liburan panjang SD, SMP, dan SMA di kabupaten Bogor, menjadi cerita tersendiri bagi para orang tua murid untuk mengantarkan anak-anaknya ke sekolah, baik yang sudah lama bersekolah maupun yang baru saja masuk. Keharmonisan begitu terlihat saat anak-anak dititipkan kepada pihak sekolah.

Serangkaian kalimat syukur pun senantiasa mengikutinya. Tak lepas keramaian pasar pun dibuatnya, terutama pedagang seragam sekolah, buku-buku dan kelengkapan tas anak sekolah. Penuh keberkahan dan menguntungkan banyak kalangan, tetapi kadang kegembiraan itu membuat lupa tentang kondisi sistem pendidikan kita saat ini.

Cerita bermula dari anggaran pendidikan yang diamanatkan dalam Pasal 31 ayat 4 UUD 1945, bahwa negara memprioritaskan penyediaan anggaran untuk pendidikan minimal 20% dari dana APBN serta dari APBD. Kemudian pertanyaan yang muncul adalah, sudahkan amanat itu dijalankan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah ?.

Ruangan kelas yang msih belum layak, robohan gedungnya yang masih jadi berita utama dimedia, angka anak putus sekolah yang masih tinggi, menjadi jawaban tersediri dari amanah undang-undang di atas.

Kemudian status guru honor yang masih belum diperhatikan seoptimal mungkin, sedang disisi lain pemerintah daerah butuh tenaga guru. Surat Tugas yang diberikan oleh Bupati ternyata belum mengakomodir semua guru honor di Kab. Bogor. Bahkan jumlahnya masih banyak. Dampak yang timbul adalah kualitas pengajaran guru terhadap anak-anak di kelas.

Yang paling ramai saat ini justru bukan itu lagi, beban masalah jadi bertambah saat aturan dilanggar demi mencari dana anggaran sekolah. Aturan masuk SD adalah anak sudah berusia 6 tahun, jika belum cukup umurnya maka sistem dapodik akan menolaknya. Cara sekolah mensiasatinya adalah dengan mencukupkan umur si anak dengan akte kelahirannya, karena dana BOS juga ditentukan oleh berapa jumlah siswanya, semakin banyak anak muridnya maka dana BOS semakin besar begitu pun sebaliknya.

Dampaknya adalah anak yang belum siap belajar _Calistung_ (membaca, menulis, dan menghitung) dipaksakan untuk belajar yang pada akhirnya anak punya beban psikologis. _Jangan engkau cabut anakmu dari dunia bermainnya terlalu cepat, karena engkau akan menemukan dunia orang dewasa yang kekanak-kanakka._ Begitulah menurut seorang psikolog, Elly Risman yang dikutipnya dari Buku The Lost of Childhood.

Tantangan lama bagi pemerintah Kab. Bogor adalah dampak sistemik dari tumpang tindihnya regulasi baik ditingkat dipusat maupun di daerah itu sendiri. Soal amanat Pasal 31 ayat 4 UUD 1945, UU ASN yang belum mengakomodir tenaga honor. Karena berbicara soal pendidikan maka kita akan berbicara soal peradaban dan masa depan anak bangsa. Kita berharap ke depan sistem pendidikan kita didukung dengan regulasi yang kuat, kurikulum yang berkelanjutan, serta tenaga guru yang handal dan profesional.

Ditulis oleh : M. Arifin, ketua BEM UNIDA

Check Also

Pria di Rumpin Nekat Gantung Diri

RUMPIN – Suasana kampung Janlapa CI Desa Sukasari, Kecamatan Rumpin, mendadak heboh akibat penemuan jasad …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *