Kemarau Panjang, Warga dan Petani Semakin Kesulitan Air Bersih

  • Whatsapp

PARUNGPANJANG – Akibat dampak musim kemarau dan berkurangnya air bersih, warga dan petani di Desa Gintung Cilejet, Kecamatan Parungpanjang terpaksa memanfaatkan air kali Cimatuk yang diduga sudah tercemar limbah tekstil konveksi batik.

Pantauan di lokasi, lahan para petani seluas dua hektare tersebut nyaris kekeringan. Padahal lahan itu saat ini sedang di tanami. Guna menjaga dan mempertahankan tanamannya, para petani terpaksa menggunakan air kali Cimatuk meski warna airnya sudah berubah hitam karena diduga tercemar limbah usaha konveksi tekstil batik. Bahkan karena kesulitan air, warga sekitar juga masih memanfaatkan air kali Cimatuk untuk mandi, mencuci pakaian dan minum.

Read More

Menurut keterangan Nurjaya (43) seorang warga Desa Gintung Cilejet, para petani yang saat ini menaman sayur mayur berupa kangkung, bayam dan memtimun, terpaksa menggunakan air kali Cimatuk yang tercemar, meski mereka pun sadar jik air yang tercampur dengan limbah bisa berpengaruh pada kandungan nutrisi sayur mayur tersebut.

“Permasalahan limbah batik ini sudah terjadi sejak sepuluh tahun terakhir. Meski dampaknya untuk sementara belum ada, tapi kemungkinan ke depan akan ada dampak pada nutrisi sayur mayur. Karena sudah pasti, limbah batik itu mengandung bahan kimia,” ungkapnya.

Menurut lelaki yang akrab dipanggil Obok ini, warga dan para petani sedang berupaya berkoordinasi dengan pihak Pemerentah Desa (Pemdes) Gintung Cilejet, meskipun hingga saat ini belum ada tanggapan. “Sekarang untuk menyiram tanaman kami terpaksa menggunakan air dari kali Cimatuk yang tercemar limbah. Sebetulnya, warga menginginkan pengelola pabrik batik membuat penampungan yang memadai dan tidak membuang limbahnya ke dasar kali Cimatuk,” tegasnya.

Dikonfirmasi adanya keluhan warga tersebut, Penjabat Sementara (Pjs) Kepala Desa Gintung Cilejet Maman Suherman mengatakan, bahwa dugaan kuat pencemaran air kali Cimatuk memang akibat limbah usaha konveksi batik. “Walaupun ini baru dugaan kami, tapi warga dan petani di sekitar kali Cimatuk sudah sering mengeluhkannya,” ujar Kades.

Dia menambahkan, saat ini, musim kemarau dan dampak kekeringan memang dirasakan warga di Desa Gintung Cilejet yang terdiri dari 19 RT dan 5 RW. “Sekarang karena air kali Cimatuk tercemar, maka sebagian besar warga menggunakan sarana MCK umum (sumur bor satelit). Tapi ada juga warga yang tetap memanfaatkan air kali Cimatuk,” tuturnya.

Pjs Kades yang akrab disapa Oskar ini menambahkan, air kali Cimatuk yang tercemar limbah sudah tidak layak digunakan warga. Meski baru dugaan, disinyalir ada pipa saluran dari pabrik konveksi batik yang bocor. Padahal menurutnya, pabrik batik tersebut sudah disegel oleh Satpol PP Kecamatan dan Kabupaten Bogor, pada tahun 2018 lalu. “Saya meminta perusahan batik itu segera membuat sumur resapan, jangan membuang limbahnya ke kali Cimatuk,” tandasnya.

Kades Oskar menegaskan, adanya sumur resapan berfungsi supaya tidak ada pencemaran terhadap air kali Cimatuk, seperti yang terjadi sekarang ini. “Kami sudah melaporkan dan mengirim surat ke perusahaan batik berdasarkan keluhan dari masyarakat sekitar. Tuntutan utama warga adalah meminta agar pabrik batik tidak membuang limbah sembarangan apalagi ke aliran air kali Cimatuk,” jelasnya.

Wartawan : FHR/Die

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *