globalnin

bluehost india coupon code

godaddy india coupon

pizzahut offers

Suki sedang memegang alat penyiram tanaman yang mengenakan topi diterik matahari yang begitu panas

Cerita Petani Ubi di Cigudeg, Dari Menanam Sampai Menikmati Hasilnya

CIGUDEG – Kampung Cilame, Desa Sukamaju, Kecamatan Cigudeg, kaya akan hasil pertanian sawah dan kebun. Kebanyakan warga di Cilame memang seorang petani. Seperti halnya Suki (55), bercocok tanam ubi dan singkong jalar sudah ia lakukan semenjak berhenti bekerja di Kota Jakarta.

Ia berjualan pada waktu itu sebagai pedang roti sekitar 20 tahun lalu. Berhenti menjadi pedagang roti, membuat Suki tidak mempunyai pekerjaan tetap dan memutuskan untuk menjadi seorang petani juga buruh, demi mencukupi kebutuhan keluarga.

Mempunyai tiga orang anak, yang masih sekolah SD, SMK dan anak sulungnya yang sudah berumah tangga. Lahan yang ia gunakan masih merupakan lahan milik bersama adiknya, dengan panjang lahan sekitar 30 meter dan lebar 20 meter. Suki menjelaskan, bahwa ia tidak hanya menanam ubi dan singkong ia juga mencoba menanam labu.

“Nggak cuma singkong sama ubi, saya juga coba menanam labu, kira-kira ada 10 pohon labu yang saya tanam,” paparnya, Sabtu (21/9/2019).

Suki pun menjelaskan, untuk modal sekitar Rp100.000-Rp200.000 guna memberi pupuk dan obat pestisida. Tidak terlalu membutuhkan banyak biaya, karena ia mengerjakan semua proses dari menanam sampai panen sendiri dan dibantu oleh istrinya, Aminah (45). Ubi bisa dipanen sekitar 3 bulan 2 kali dan singkong 1 tahun, paling cepat 9 bulan. Sedangkan untuk labu dipanen sekitar lima bulan setelah ditanam. Untuk labu, harus mendapat perhatian lebih karena harus disemprot pestisida sebulan 2 kali pagi dan sore hari.

Saat musim panen tiba, Suki menjual hasil panennya ke pemborong Ubi atau Singkong. Terkadang Suki jual juga kepada tetangga-tetangga disekitar rumahnya. Untuk perkilo berkisar Rp2.500-Rp3.000. Sedangkan labu, dijual perbiji sekitar Rp20.000-Rp30.000. Penghasilan yang didapat saat panen Rp200.000-Rp300.000. Namun, musim kemarau panjang membuat hasil panen Suki tahun ini menurun. Suki hanya memperoleh pendapatan sekitar Rp.170.000.

“Kadang saya borongin jualnya. Kalau nggak, ke tetangga jual perkilo. Lumayan hasilnya bisa buat jajan anak dan kebutuhan dirumah. Tapi, tahun ini hasil panen menurun gara-gara musim kemarau panjang,”Jelasnya

Hampir setiap hari sehabis Dzuhur, pukul 13:00 WIB, Suki pergi ke kebun untuk sekedar memeriksa dan membersihkan kebunnya dan kembali kerumah pukul 14:30 WIB. Selagi kebunnya belum memasuki musim panen, demi menafkahi keluarganya Suki bekerja sebagai seorang buruh.

Menjadi seorang petani bukan hal yang mudah, resiko lelah dan panas terik matahari yang menyengat tubuhnya tentu harus ia terima.

“Semua kan demi anak dan istri. Melihat keluarga tersenyum pun lelah terbayarkan,” pungkasnya. (Aeni/Andi)

Check Also

Ketum PBNU Hadiri Peringatan Hari Santri Nasional di UNUSIA

KEMANG – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *