Kopi Gunung Salak Cap Kujang Buatan Mantan Wakil Bupati Bogor

  • Whatsapp
Mantan wakil bupati Bogor periode 2009-2014 Karyawan Faturahman beserta istrinya yaitu Saptariani saat meracik kopi gunung salak cap Kujang, diacara Food Festival Tradisional, yang dilaksanakan di Lapangan Bumi Tegar Beriman, Minggu (17/11/2019). Foto : Andi Ahmad

PUBLIKBOGOR.COM | CIBINONG – Kopi merupakan salah satu jenis minuman yang sedang banyak digandrungi belakangan ini. Nah, sebagai pecinta kopi, tak ada salahnya jika mencoba juga kopi ciri khas Kabupaten Bogor yaitu Kopi Gunung Salak Cap Kujang yang diproduksi oleh Mantan Wakil Bupati Bogor periode 2009-2014 yaitu Karyawan Faturahman.

Indonesia dikenal memiliki banyak kebun kopi yang tersebar di berbagai daerah. Salah satunya adalah Kebun Kopi di Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor yang saat ini memproduksi kopi.

Read More

Saptariani selaku istri dari Karyawan Faturahman itu mengatakan, kopi yang di produksinya itu bernama Kopi Gunung Salak Bogor Cap Kujang, arti Gunung Salaknya menurut mantan wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor periode 2014-2019 itu, mewakili Kabupaten Bogor, sedangkan untuk Kujangnya tersendiri dari Budaya ciri khas Bogor adalah Kujang.

“Kopinya tersendiri murni dari Kabupaten Bogor,” katanya kepada Publikbogor.com ketika ditemui di stan Tradisional Food Festival, yang dilaksanakan di Lapangan Bumi Tegar Beriman, Minggu (17/11/2019).

Karena, menurutnya itu, Kabupaten Bogor ini sangat banyak akan petani kopi yang dalam pemasarannya belum tersalurkan, dan juga tidak diperhatikan secara serius oleh Pemerintah Kabupaten Bogor.

Wakil ketua HKTI Kabupaten Bogor Saptariani, saat menunjukkan produk kopi gunung salak cap Kujang, kepada Bupati Bogor Ade Yasin, diacara Food Festival Tradisional yang dilaksanakan di Lapangan Bumi Tegar Beriman, Minggu (17/11/2019). Foto : Andi Ahmad

Dirinya juga bercerita, ketika dirinya menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor periode 2014-2019, para kelompok Petani Kopi mengeluh bagaimana cara untuk produk hasil pertanian mereka (petani Sukamakmur.red) dalam pemasarannya supaya tersalurkan, dan belum pernah menerima setiap bantuan dari pemerintah daerah baik itu dari pupuk dan yang lainnya.

“Pernah ada yang ngeluh ke saya, katanya Bu gimana yah kita ini petani kadang-kadang bantuan tidak tersalurkan dari dinas, kan ada bantuan pupuk dan yang lainnya alat-alat pengolahan kopi pun tidak tepat sasaran, dan yang memproduksi kopi malah tidak dapat apa-apa,” ujarnya saat menirukan aspirasi petani kopi itu.

Oleh karena itu, suaminya tersebut (Karyawan Faturahman) sebagai pecinta budaya dikaitkan lah dengan petani kopi. Karena, jaman dahulu orang tua itu minta kopi yang bukan di gunting, tapi di giling secara alami.

“Dan ini caranya, kami ingin petani Kabupaten Bogor bisa memasarkan hasil pertaniannya itu ke kancah nasional, maupun Internasional dalam mensejahterakan petani kopi juga,” imbuhnya.

Saptariani selaku Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Bogor itu juga akan fokus, kepada para petani kopi khususnya, dan hal ini dirinya siap menampung semua aspirasi petani kopi supaya didengar oleh pemerintah daerah.

“Lewat HKTI ini saya akan perjuangkan, karena potensi ini bisa mendunia dimana-mana pemuda di Bogor khususnya pasti mencari, dan nongkrong di tempat kopi tapi kita warga Kabupaten Bogor lebih baik mencintai kopi khas Kabupaten Bogor, dengan cara minum tradisional dan kita melawan cara minum-minum budaya luar dengan meminum kopi tubruk, dan kopi yang cocok cuma kopi tubruk Gunung Salak,” tukasnya. (Andi).

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *