KSPI Kekeuh Meminta Kenaikan UMP 2021

by -12 views

Publikbogor.com – Para buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) tetap meminta kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2021. Kenaikan yang diminta oleh para buruh tersebut minimal 8 persen.

 

“Kalau melihat perbandingan tahun krisis 1998, 8 persen kenaikan upah minimum 2021. Maka tidak boleh 0 persen intinya tetap ada kenaikan,” ujar Presiden KSPI Said Iqbal dalam Konferensi Pers KSPI, Jumat (30/10/2020).

 

Iqbal menjelaskan perhitungan atas kenaikan UMP 2021 seharusnya berkaca pada krisis hebat yang melanda ekonomi Indonesia di tahun 1998. Dia mencatat saat itu, ekonomi minus 16,7 persen disertai inflasi mendekati 78 persen.

 

Namun, sambung Iqbal, untuk menjaga tingkat daya beli masyarakat di kondisi sulit akhirnya pemerintahan Alm. Habibie tetap memutuskan adanya kenaikan UMP. “Misalnya di DKI sebesar 16 persen dengan pertumbuhan ekonomi minus 17,6 persen dan inflasi mendekati 78 persen,” paparnya.

 

“Menjaga konsumsi kata Presiden Habibie, pemerintah tetap menjaga purchasing power artinya daya beli masyarakat. Salah satu instrumen daya beli masyarakat adalah menaikkan upah para buruh karena buruh adalah kelompok masyarakat yang mempunyai purchasing power terukur karena punya upah. Kelompok lain bentuk pendapatannya fluktuatif atau tidak ada sama sekali,” imbuh dia.

 

Pun, di tengah kondisi sulit ekonomi akibat pandemi Covid-19 saat ini dinilai masih banyak perusahaan-perusahaan yang tetap melakukan kegiatan produksi. Alhasil diyakini banyak perusahaan masih mempunyai kemampuan untuk menaikkan upah pegawainya.

 

“Banyak perusahaan yang collapse kita setuju tidak dinaikkan upahnya, industri pariwisata, hotel, setuju, tapi pakai laporan tertulis. Tapi masih banyak perusahaan yang operasional kok. Bahkan beberapa juga ada yang untung,” terangnya.

 

Oleh karena itu, dia mendorong pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan untuk mencabut penerbitan SE anyar yang dinilai merugikan kaum buruh. Sehingga UMP 2021 dipastikan tetap mengalami kenaikan.

 

“Maaf ya ini bukan mengancam. Bisa saja terjadi akhirnya diambil keputusan mogok kerja nasional ini jauh lebih kuat dari pada mogok kerja nasional yang pernah dilakukan oleh serikat buruh pada tanggal 6 sampai 8 Oktober lalu. Kenapa? Karena mogok kerja nasional ini pasti akan dipakai oleh kawan-kawan buruh di tingkat pabrik yang kemudian akan mengusulkan ini kepada tingkat nasional,” tutupnya

 

Sumber : Liputan 6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *