Kakek Nali, Seorang Pengrajin Gula Aren Asal Rumpin Yang Hidup Sendiri di Hutan

by -21 views

Publikbogor.com –  Berjuang sendirian di dalam gubuk di tengah hutan adalah profesi yang dilakukan Nali (52) dalam setiap harinya.

 

Dia bekerja di tengah lereng perbukitan hutan yang cukup jauh dari pemukiman penduduk kawasan Kampung Cijantur, Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.

 

Dalam kesehariannya, kakek Nali mengaku hanya sendirian di dalam gubuk berukuran sekitar 2×3 meter dari pagi hingga sore hari memproduksi gula aren murni dengan metode tradisional.

 

Bahkan Nali juga setiap harinya bekerja di tengah hutan tanpa ditemani radio, tv apalagi internet.

 

“Saya udah lima tahunan kerja ini. Iya, saya kerjanya sendirian. Setiap hari berangkat jam 04.30 WIB, pulang jam 17.30 WIB,” kata Nali disela-sela kesibukannya saat ditemui TribunnewsBogor.com di gubuknya.

 

Meski begitu, Nali mengaku tak pernah merasa kesepian atau pun bosan.

 

Selain itu, Nali ini merupakan salah satu dari sekian pembuat gula aren di Kampung Cijantur, Desa Rabak, Kecamatan Rumpin dengan cara dan metode yang sama di wilayah yang merupakan salah satu sentra pengrajin gula aren murni di Bogor ini.

 

Dia biasa melakukan pengambilan cairan pohon aren (pohon kaung) yang disebut cairan lahang di hutan dengan cara diteteskan ke dalam bambu penampung semalaman.

 

Kemudian pagi hari bambu tersebut diambil lalu isinya dituangkan ke wajan besar tanpa campuran apapun dan diletakan di atas tungku api di dalam gubuk sampai jadi gula.

 

Pembuat gula aren di pelosok Rumpin, Kabupaten Bogor. (istimewa)

 

Untuk proses memasak cairan aren ini, Nali bahkan tak bisa keluar gubuk selama 5 jam belum termasuk waktu pencetakan dan pengemasan gula menggunakan daun aren kering.

 

Selama waktu tersebut, Nali harus bertahan di dekat tungku api berbahan bakar dari kayu kering itu.

 

“Soalnya kalau saya tinggalin apinya nanti takut mati, terus lahangnya kalau ditinggalin nanti takut tumpah,” kata Nali.

 

Selama lima jam tersebut, Nali secara terus menerus memantau tungku pemasakan gula aren yang menggunakan wajan atau kuali ukuran besar itu.

 

Dalam beberapa saat sekali, dia mengipas api agar tidak padam dan juga mengipas cairan aren ketika terlihat berbuih agar tidak tumpah dari wajan.

 

Nali mengatakan bahwa dia punya alasan terkait kenapa harus bekerja membuat gula aren di tengah hutan.

 

Selain itu, para pembuat gula aren lainnya di kampung tersebut juga melakukan hal yang sama seperti Nali.

 

“Karena jauh dari rumah, ini pohon-pohon arennya. Kalau lahangnya dibawa ke rumah, dipikul jauh, terus terjal karena ini hutan. Lebih baik lahangnya dibuat jadi gula di sini, baru dibawa ke rumah,” kata Nali.

 

Permintaan gula aren naik

 

Nali mengaku bahwa di tengah pandemi Covid-19 ini, usahanya tersebut sama sekali tidak terdampak.

 

Bahkan malah mengalami peningkatan permintaan gula murni.

 

Harga jual gula aren murni ini pun kata dia kini juga ikut naik dari harga biasanya Rp25-30 ribu.

 

“Iya sekarang jadi banyak yang mesen. Harga gula aren ketengan sekarang agak tinggi, Rp30-35 ribu per gulung (dua butir),” kata Nali.

 

Namun, banyaknya permintaan gula aren murni menurutnya sulit diimbangi.

 

Sebab, saat dia mencari cairan lahang dari pohon aren di hutan, cairan yang didapat tidak menentu.

 

“Yang pesen ada terus, abis bulan puasa kemarin saya juga gak libur-libur. Tapi, dapat lahang kadang sedikit, kadang banyak, tergantung pohonnya,” ungkap Nali.

 

Sumber : Tribun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *