Mengenal Sosok Pejuang Prada Samlawi Asal Rumpin

by -11 views

Publikbogor.com – Nama Prada Samlawi mungkin cukup asing di telinga masyarakat. Sebagian warga ada yang mengenal nama ini hanya sebatas nama jalan yang ada di wilayah Kabupaten Bogor. Namun siapa sangka, pemilik nama yang diabadikan sebagai nama jalan di wilayah Kecamatan Rumpin itu adalah sosok pejuang yang terlibat dalam mengusir penjajah dari tanah air Indonesia.

 

Prada Samlawi sendiri merupakan putra asli Rumpin, Kabupaten Bogor. Semasa hidupnya, beliau terlibat dalam mengusir para penjajah Belanda dari tanah air, khususnya di wilayah Bumi Tegar Beriman. Sosoknya pun cukup diperhitungkan hingga tidak disukai para penjajah.

 

Kisah Prada Samlawi ini pun diceritakan melalui sebuah buku yang berjudul ‘Prajurit asal Rumpin yang patriotik, wafatnya Samlawi kala usir Belanda’. Buku ini merupakan hasil karya pemuda asal Rumpin, Mulya Diva yang terpinspirasi dari perjuangan beliau.

 

“Jadi ide mencari tahu sosok Prada Samlawi ini tercetus sejak Juli 2016 lalu. Berawal dari keingintahuan tentang dibalik nama Prada Samlawi yang diabadikan sebagai nama jalan di Kecamatan Rumpin,” kata Muya Diva.

 

Jalan Prada Samlawi sendiri terbentang sepanjang dua kilometer di ruas jalan utama Kecamatan Rumpin. Jalan ini melintasi dua desa.

 

Dari situ, dilanjutkannya, ia mencoba mencari kediaman hingga keluarga Prada Samlawi.

 

 

“Tentu tidak mudah untuk mendapatkan keterangan secara rinci riwayat perjalanan sang pejuang asal Rumpin ini. Keterangan yang didapat dari pihak keluarga berasal dari adik kandung Prada Samlawi (Samiyah) yang menceritakan tentang semasa hidup almarhum,” kata Ozos sapaan Mulya Diva.

 

Keterangan dirasakan belum cukup, Ozos pun mencoba menelusuri jejak Prada Samlawi. Mulai dari Tugu Perjuangan (Kecamatan Rumpin), kerabat atau yang ikut keterlibatan pertempuran, Museum Perjuangan Bogor, Makam Pahlawan Dreded, Makam Pahlawan Pondok Rajeg, keluarga besar Mayor Sholeh Iskandar hingga keluarga besar para pejuang di Kecamatan Rumpin pun ia datangi.

 

“Selanjutnya didapat keterangan dari pihak keluarga para veteran perjuangan paska kemerdekaan di Kecamatan Rumpin. Dari keterangan itulah akhirnya buku ini dapat terselesaikan,” ucap dia seraya mengaku membutuhkan waktu selama empat tahun untuk menyelesaikan buku ini.

 

Dijelaskannya, sosok Prada Samlawi dikenal sebagai pribadi yang tak gentar dalam mengusir penjajah. Keberaniannya cukup diingat terkhusus para rekan seperjuangan, dimana saat itu Prada Samlawi berada disatuan Seksi III, pimpinan Sersan Sairin. Cerita ini, didapat dari teman Prada Samlawi bernama Sabra yang masih ada di Desa Banyu Asih, Kecamatan Cigudeg.

 

“Satu seksinya itu beranggotakan sekitar 40 personel. Di Ceritakan teman Prada Samlawi yang masih ada, bahwa Prada Samlawi berada dibawah komando Batalyon KH. Sholeh Iskandar, yang saat itu bernama tentara rakyat,”ucapnya.

 

Namun sayang, Prada Samlawi harus berpulang di usia yang sangat muda sekitar berumur 35 tahun. Beliau gugur saat terlibat dalam pertempuran di wilayah Kampung Sentuk, Desa Bangunjaya, Kecamatan Cigudeg pada tahun 1948. Sebelumnya, Samlawi sebelum berangkat, minta dibuatkan pepes ikan, namun setelah matang, tidak sempat memakan pepes ikan itu.

 

“Saya mendapatkan keterangan dari orang yang melihat langsung di Kampung Sentuk. Sehabis Sholat Djohor, Prada Samlawi diseret dan ikat, baru dibakar, setelah itu dihujani peluru. Mendengar kabar itupun, saya langsung meneteskan air mata,”ucap Ozos.

 

Prada Samlawi bukan hanya seorang tentara yang taat pada atasannya. Tapi beliau selalu tekun beribadah, meski berada di wilayah yang pada saat itu sangat genting. Abah Ugan, teman Prada Samlawi yang saat itu, melihat langsung saat detik-detik dieksekusi.

 

“Itu gerombolan bentukan belanda, belaiu wafat ditengah kali, tapi Abah Ugan selamat karena dari sipil. Saya pribadi sangat kagum dengan almarhum, meski dalam kedaan perang, tapi beliu masih menyempatkan untuk menghadap Allah,”bebernya.

Akan tetapi, sambung Ozos Prada Samlawi di makaqamkan di Kampung Sentuk. Namun setelah perang refolusi pisik usai, pihak keluarga meminta agar Prada Samlawi di pindah ke tempat kelahirannya. Akhirnya para pemimpinam sepakat untuk memindahkan maqam itu ke Rumpin.

 

“Sekitar tahun 1949 Samlawi dipindahkan ke Kampung Gardu Desa Kampung Sawah. Namun untuk dikenang oleh masyarakat rumpin, namanya diabadikan pada ruas jalan utama. Hingga saat ini, kondisi maqam tersebut, terkesan tidak terurus. Bahkan setiap tanggal 10 Agustus, saya suka membersihkan makamnya sekaligus pemasangan bendera,”bebernya.

 

Dengan itu, Ozos berharap, melalui buku ini perjuangan Prada Samlawi diketahui masyarakat banyak. Bahkan, warga mengetahui tentang sejarah pertempuran yang terjadi di wilayah Rumpin pada era tahun 1945-1949. Karena sebagian masyarakat rumpin, tidak mengetahui riwayat perjalanannya.

 

“Buku ini dibuat untuk mengenang kembali jasa-jasa para pejuang yang telah gigih memperjuangkan kemerdekaan, khususnya di Kecamatan Rumpin. Semoga dengan dibuatnya buku ini bisa diterima masyarakat Rumpin, khususnya bagi para pemuda pemudi,” harapnya. Pungkasnya.

 

(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *