, ,

Catatan Dua Tahun Kepemimpinan Ade Yasin dan Iwan Setiawan

by -

Publikbogor.com – Lembaga Visi Nusantara Maju bersama Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Bogor Raya memberikan beberapa catatan-catatan, dua tahun kinerja bupati dan wakil bupati Bogor yang saat ini sedang memimpin Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Dalam diskusi pada Rabu (16/12/2020) sore kemarin bersama para awak media. Direktur DEEP Yusfitriadi menilai, bahwa dua tahun kepemimpinan Bupati Bogor, Ade Yasin dan Wakil Bupati Bogor, Iwan Setiawan belum terlihat adanya perubahan yang signifikan.

Kang Yus sapaan akrabnya itu mengatakan, salah satunya program Pancakarsa yang digaungkan politisi PPP dan Gerindra itu belum terealisasi dengan baik.

Bahkan, kinerja Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) terlihat sampai saat ini masih jalan sendiri-sendiri. Hal tersebut membuat program Pancakarsa yang sudah digaungkan itu tidak berjalan mulus.

“Program bupati dan wakil bupati itu kan Pancakarsa. Tapi kinerjanya masih begitu-begitu saja. Terlihat juga dinas-dinasnya masih masing-masing, ini tentu belum adanya koneksi yang baik. Ini akan menggambarkan kesenjangan antara ekspektasi masyarakat dengan treatment pemerintah daerah,” katanya kepada wartawan.

Bahkan, transparansi dan akuntabilitas dalam berbagai program di setiap SKPD Kabupaten Bogor itu pun terlihat masih semraut. Tentu hal tersebut masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemkab Bogor.

“Ketika satu sektor tidak transparan, kemungkinan yang lain juga akan seperti itu. Jadi peran Media dalam hal ini menjadi sangat penting untuk membantu menginformasikan kinerja Pemda. Kita harus segera ingatkan agar hal ini tidak berlarut-larut. Karena tujuan kita sama membangun Kabupaten Bogor lebih baik lagi,” jelasnya.

Ditempat yang sama Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Rudy Susmanto juga menilai, bahwa di dua tahun kepemimpinan Ade Yasin-Iwan Setiawan masih banyak capaian yang belum tuntas.

“Kita lihat saja di 2019 gambaran umumnya, silpa ada sebanyak Rp1,2 triliun. Tapi kita di Legislatif masih memakluminya karena itu masih awal jabatan. Yang sangat kita sayangkan, pada program Pancakarsa itu terlihat bagus, tapi kenapa Pemkab Bogor tidak munculkan potensi wilayah,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Rudy yang mewakili anggota legislatif di Kabupaten Bogor juga menyoroti soal tagline Sport and Tourism, yang dinilai tidak berjalan.

Padahal, anggota legislatif pernah mengundang Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) untuk mengajukan raperda retribusi  Stadion Pakansari, yang bisa mendongkrak pendapatan disektor olah raga.

“Padahal kalau memang tagline Sport and Tourism yang saat ini sedang digaungkan, Pemkab Bogor bisa memanfaatkan pendapatan disektor olah raga seperti stadion kebanggaan masyarakat Bumi Tegar Beriman,” imbuhnya.

Ia menambahkan, tujuan Legislatif dan eksekutif sama, yakni memajukan Kabupaten Bogor dan memperbaiki ke hal yang lebih baik lagi. Maka dari itu, ia berharap di tahun ke tiga 2021 kepemimpinan Ade Yasin-Iwan Setiawan bisa tepat sasaran.

“Kita juga terlalu banyak memberika izin untuk perumahan. Padahal ini merusak lingkungan kita. Ayo berbenah bersama-sama, karena tujuan Legislatif dan Eksekutif sama. Apalagi program Pancakarsa, ini bagus tinggal diselaraskan kembali,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, di tahun 2020 kali ini Pemkab Bogor lebih merawat dibandingkan membangun. Namun, ia memaklumi bahwa sekitar Rp600 miliar APBD 2020 dialihkan kepada penanganan bencana alam pada Januari awal dan untuk menangani Pandemi Covid-19.

“Kita mewajarkan hal itu, karena pada awal tahun kita dikepung bencana diwilayah Bogor Barat, dan juga wilayah timur, dan juga masalah pandemi. Ini kita harus pikirkan bareng-bareng untuk di 2021 ini lebih baik lagi, dan beberapa programnya bisa tercapai,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *