, ,

Masih Abu-Abu, Siapa Pengendali Merger Tri Dan Indosat

by -

Publikbogor.com – Rencana besar konsolidasi dua perusahaan telekomunikasi di Indonesia, PT Hutchison 3 Indonesia (Tri) dengan PT Indosat Tbk (ISAT) mulai tampak jelas. Kedua pemegang saham sudah melakukan pertemuan terkait konsolidasi ini, bahkan meneken nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU).

Ya, pemegang saham pengendali ISAT yakni Ooredoo Q.P.S.C, asal Qatar menyatakan telah menandatangani MoU yang eksklusif dan tidak mengikat secara hukum dengan CK Hutchison Holdings Limited (CK Hutchison), pemilik terakhir dari Tri.

 

Nota kesepahaman itu sehubungan dengan rencana potensi transaksi untuk mengkombinasikan dua perusahaan telekomunikasi di Indonesia yakni, Indosat dan Tri kendati tidak spesifik memakai kata merger. Hanya saja MoU ini menjadi sinyal bahwa arah merger bisa saja dipilih.

 

“Ooredoo sedang dalam tahap awal menilai manfaat dari transaksi potensial tersebut. Sebagai bagian dari strategi perusahaan, kami secara teratur meninjau prioritas strategis dan posisi pasar kami di semua operasi kami, dan kontribusinya terhadap Grup Ooredoo,” tulis manajemen Ooredoo, dalam siaran pers yang diperoleh CNBC Indonesia, Senin (28/12/2020).

 

Manajemen Ooredoo menekankan, tidak ada kesepakatan yang mengikat sehubungan dengan kemungkinan konsolidasi yang telah dibuat pada tanggal pengumuman tersebut dan perusahaan akan membuat pengumuman lebih lanjut.

 

Saat kabar ini pertama kali berembus soal merger, manajemen Tri Indonesia belum berani bisa memberikan tanggapan perihal pembicaraan lebih lanjut mengenai merger dengan Indosat.

 

Wakil Direktur Utama Tri Indonesia, Danny Buldansyah tak memberikan gambaran lebih rinci, termasuk apakah sudah ada pembicaraan dengan Indosat.

 

“Kami dari manajemen belum bisa memberi info mengenai hal ini. Sebaiknya ditanyakan kepada CKH atau Ooredoo,” katanya saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (22/12/2020).

 

Bahkan ISAT pun belum berani memberikan pernyataan resmi kendati sudah coba dikontak CNBC Indonesia, sampai akhirnya pernyataan Ooredoo dirilis Senin kemarin (28/12).

 

Lantas jika konsolidasi bakal terjadi dalam bentuk merger, siapa yang menjadi penerima (survivor entity)?

 

Dalam riset yang dipublikasikan BRI-Danareksa Sekuritas, ada peluang Tri Indonesia menjadi pemegang saham pengendali perusahaan hasil merger. Tri, misalnya baru-baru ini termasuk salah satu operator yang memenangkan lelang frekuensi untuk pengembangan jaringan 5G di Indonesia.

 

Sedangkan, Indosat, lanjut riset tersebut, secara operasional, Indosat sedang mengalami perubahan haluan yang membenahi organisasinya dengan redundansi karyawan dan menetapkan arah yang jelas menuju modernisasi jaringan dengan 4G.

 

Meski begitu, kedua perusahaan tetap bisa menjadi pemegang saham yang signifikan di perusahaan hasil merger nantinya.

 

Ada beberapa pertimbangan penting dalam merger ini, pertama, selain efisiensi untuk ekspansi jaringan, ke depan, Indonesia akan mendekati siklus jaringan internet super cepat 5G di era internet of things (IoT).

 

“Saat kita mendekati siklus 5G, umumnya dianggap siklus belanja modal berikutnya hanya dapat dijalankan dengan mengurangi persaingan dan meningkatkan monetisasi, serta meningkatkan sumber daya lebih lanjut,” tulis BRI Danareksa, dikutip Senin (28/12/2020).

 

Berdasarkan data laporan keuangan ISAT per September 2020, pemegang saham Seri B ISAT yakni Ooredoo Asia Pte Ltd 65%, Pemerintah RI 14,29%, dan publik 20,71%. Dengan jumlah saham Ooredoo mencapai 3.532.056.600, maka nilai saham dengan memakai harga saham terakhir Rp 5.650 milik Ooredoo senilai Rp 19,99 triliun.

 

Pada perdagangan Senin kemarin, saham ISAT disuspensi oleh BEI lantaran berkaitan dengan pergerakan harga sahamnya.

 

Data BEI mencatat saham ISAT melesat 43% sepekan terakhir perdagangan, dan sebulan terakhir meroket 146% dengan kapitalisasi pasar Rp 30,70 triliun.

(Cnbc)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *