Apa Kabar Odading Mang Oleh?

  • Bagikan

Publikbogor.com – Masih ingat dengan cemilan Odading Mang Oleh? Jajanan tradisional ini sempat viral pada September 2020 berkat ulasan unik pria yang akrab disapa Ade Londok.

Odading Mang Oleh seakan disulap dan kebanjiran pembeli setelah viral di media sosial. Antrean pembeli sampai mengular untuk mencicipi Odading ini, namun sekarang pembeli tak lagi terlihat mengantri.

Seperti dilihat dalam sebuah video tiktok @karimawrs yang menunjukkan rasa penasaran netizen akan kelanjutan Odading Mang Oleh. Kemudian, cuplikan video itu memperlihatkan sebelum dan sesudah viral. Tak lagi ada antrean atau keramaian pembeli. Video itu sudah disukai lebih dari 62 ribu dan 1229 disukai.

Media ini mengunjungi langsung tempat Odading Mang Oleh di Jalan Baranangsiang, Kosambi, Kota Bandung. Dari pantauan, memang terlihat tidak ada antrean tetapi beberapa pembeli datang dan pergi.

Ada tiga gerobak yang disediakan, dua gerobak untuk penggalangan Odading dan Cakwe sedangkan yang satunya untuk menyimpan hasil penggorengan Odading dan Cakwe. Di sisi kanan pun tersedia tempat duduk bagi pembeli.

Agus (38), penjual sekaligus anak pertama Mang Sholeh mengakui, ada penurunan penjualan terlebih saat PSBB Proporsional Kota Bandung.

“Emang benar, apalagi semenjak PSBB jadi kan kebanyakan yang penasarannya orang luar kota seperti Bekasi, Karawang, dan Jakarta. Kalo yang dalam kota langganan biasa. Tapi untuk penjualan paling menurut saya turun sedikit,” kata Agus kepada detikcom, Sabtu (23/1/2021).

Lebih lanjut, perbedaan yang paling menonjol sebelum dan sesudah viral diakuinya terlihat dari jumlah bahan yang ia gunakan. Kemarin viral 15 karung kalo weekend. “Kalo sekarang 10 karung, cuman semenjak PSBB turun lagi yang biasanya dari luar Kota. Untuk dalam kota masih sering kesini org itu-itu aja,” ujarnya.

“Yang kagetnya dulu waktu viral, yang beli udah ada duluan barangnya belum ada. Kalo sekarang kebalikannya, barangnya udah ada duluan, nunggu pembeli,” sambung Agus.

Saat ini, Odading Mang Oleh sudah bisa dipesan melalui layanan pesan makanan daring. Pendapatan dari online, kata Agus, cukup baik sekitar Rp500-Rp600 ribu per hari.

Meskipun sepi pembeli, cemilan yang cocok disantap setiap saat ini tidak mengalami perubahan bentuk atau harga. Agus masih tetap mempertahankan kualitas, ukuran, dan harga yang murah yaitu Rp1.500.

“Kita enggak rubah, harga dari sebelum viral, terus viral, terus sepi lagi tetep segitu. Kalo ukuran misalnya kita diperkecil pasti pelanggan tau itu, tapi kita enggak berubah ukurannya masih sama,” katanya.

 

(Dtk)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *