“Jika Ada Beras Banbup Kualitasnya Jelek Akan Kami Ganti”

  • Bagikan

Publikbogor.com – Beras Bantuan Bupati Bogor tahap ke III rampung didistribusikan di akhir Desember 2020 lalu, tak kurang dari 6000 ton ton beras dibagian kepada 200.000 KPM (keluarga penerima manfaat) di 40 kecamatan di Kabupaten Bogor.

Bantuan beras bagi keluarga terdampak Covid19 berupa beras berisi 30 kg yang terbagi dalam 2 kemasan karung masing masing berat 15 kg .

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bogor, Nuradi (5/1) menjelaskan di tahap ketiga ini pendistribusian atau penyaluran beras bansos dari Bupati, pihaknya melibatkan Perum Bulog untuk 29 kecamatan dan Perumda Tohaga untuk 11 kecamatan.

Dijelaskan Nuradi semua sudah melewati SOP yang berlaku, yaitu mulai dari QC (quality control) yang disaksikan oleh kedua dua belah pihak untuk memastikan dari segi kuantitas dan kualitas beras yaitu stock beras yang tersedia dan kualitas beras medium.

Pelaksana penyaluran beras dari gudang beras yang ditunjuk oleh pihak Perum Bulog dan Perumda Tohaga disalurkan oleh pihak TNI, Polri dan Pemda ke desa/kelurahan dan jika ada pengaduan/keluhan resmi terkait dengan kualitas beras silakan melaporkan kepada desa/kelurahan masing-masing.

Kadisperdagin menegaskan bahwa kualitas beras selalu menjadi prioritas, bahkan pihaknya mengaku sudah menginstruksikan aparat wilayah, termasuk camat beserta jajaran untuk tidak menerima beras yang jelek.

“Jika terjadi silakan lapor call center melalui RT/RW/Desa/Kelurahan untuk ditindaklanjuti sesuai prosedur, hot line call center tanggap Bansos berlaku 3 x 24 jam setelah pengiriman beras ,”tegasnya.

Sementara itu Direktur Utama PD Pasar Tohaga, Haris Setiawan (5/1) selaku salah satu instansi pengadaan barang mengaku siap jika terdapat keluhan akan beras yang di supply nya.

Dalam program bantuan Bupati tahap III bagi keluarga terdampak Covid-19, Perumda Pasar Tohahlga bertanggung jawab atas 2.286.300 kg beras.

Haris menjelaskan jika fakta di lapangan ditemukan beras yang tidak sesuai kualiatas atau kuantitas, silakan laporkan untuk dilakukan penggantian.

“Kami akan ganti sebagai bentuk layanan,” ungkap Haris.

Ela,(28), salah satu penerima beras bantuan di RT 11 Desa Cariu mengaku beras bantuan Bupati yang diterimanya baik. Sebanyak dua karung beras masing masing 15 kg diterimanya beberapa minggu lalu melalui RT dan RW setempat.

“Terimakasih pemerintah Kabupaten Bogor berasnya bagus, sudah kami masak , dan tidak pera,” tuturnya.

Berbeda dengan salah satu warga Desa Pasir Angin, Cileungsi yang videonya viral di group-group WA dan medsos merekam bahwa beras banbup berkarung Pasar Tohaga kotor, butiran pecah-pecah, hitam dan banyak kutunya serta menurut pengakuannya jika dimasak beras kuning dan agak bau.

Sementara itu dihubungi melalui pesan singkat (6/1), anggota DPRD Kabupaten Bogor Achmad Fathoni menyayangkan apa yang terjadi dilapangan terkait kualitas beras bansos yang dikeluhkan warga, karena dirinya menjadi salah satu orang yang dituju oleh warga ketika ada masalah dengan bansos yang didistribusikan.

“Mestinya kalau prosedur QC berjalan baik, tidak akan ada beras jelek yang nyampai ke masyarakat apalagi kan kalau jelek pasti laporan ke kita karena warga tahunya kita anggota dewan, kami cuma berharap ke depan lebih baik lagi dalam hal penyaluran bansos dan mestinya ada pertanggungjawaban yg jelas kepada penyedia ketika ada masalah kualitas seperti ini, mekanisme reward and punishment kan harusnya ada, sehigga kejadian serupa tidak terulang lagi”. Ungkap Politisi PKS dari Dapil II itu.

Fathoni juga meminta kepada Disperindag atau siapapun penyedia bansos di Kabupaten Bogor jika memang ada mekanisme penggantian jika kualitasnya tidak sesuai harusnya proaktif mendatangi warga.

“Mestinya dinas lebih proaktif jika memang ingin mengganti, karena masyarakat akan mengalami kesulitan jika harus melapor dan menukar sendiri”. Pungkasnya.

 

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *