Tri Dan Indosat Merger? Begini Nasib Internet Indonesia

  • Bagikan

Publikbogor.com – Konsolidasi operator seluler di Indonesia telah lama digaungkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemekominfo) sebelum isu merger Indosat dan 3 (Tri).

 

Pasalnya, jumlah operator telekomunikasi yang “gendut” disinyalir kerap menjadi ihwal persaingan tarif antara operator. Perang tarif ini berujung pada tidak sehatnya industri selular dalam negeri.

 

Isu merger Indosat dan 3 (Tri) berawal dari sumber Bloomberg (22/12) yang menyebut raksasa keuangan Hongkong CK Hutchison Holdings Ltd dikabarkan tengah melakukan pembicaraan lanjutan terkait merger bisnis operator telekomunikasi di Indonesia dengan Ooredoo QPSC, pemegang saham mayoritas PT Indosat Tbk (ISAT).

 

Lalu pada akhir Desember, Ooredoo QPSC dan CK Hutchison Holdings Limited melakukan penandatanganan MoU. Ini merupakan tahap awal untuk menilai potensi dari transaksi merger kedua perusahaan. MoU tersebut tak bersifat mengikat.

 

Pada Januari, Director and Chief Operating Officer PT Indosat Tbk Vikram Sinha mengungkap telah mengantongi dukungan pemerintah terhadap nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara perusahaannya dengan PT Hutchison 3Indonesia untuk mengkaji potensi penggabungan usaha.

 

Internet makin cepat?

Pengamat Telekomunikasi Heru Sutadi menilai merger operator seluler ini juga bisa memengaruhi kualitas layanan internet dan telekomunikasi yang dinikmati pelanggan.

 

“Walaupun memang belum tentu ya. Paling tidak secara hitung-hitungan dengan frekuensi yang makin besar, tentunya kita harapkan juga layanan terutama berbasis data internet menjadi lebih baik,” katanya saat dihubungi (19/2).

 

Senada, Pengamat Telekomunikasi Nonot Harsoyo mengatakan akan ada perubahan pengalaman pengguna atas penggabungan dua provider itu. Namun, kata dia hal tersebut akan berlangsung cukup lama, 1 hingga 2 tahun setelah dinyatakan resmi bergabung.

 

Ia menjelaskan, merger antara 3 dan Indosat dapat memperlebar spektrum frekuensi karena banyaknya jumlah Base Transceiver Station (BTS) yang diakumulasi dari dua perusahaan tersebut.

 

“Kalau jumlah BTS-nya nambah, kapasitas dan lain-lain nya lebih tinggi dan lebih besar. Jumlah BTS dan pitanya nambah berarti kecepatan aksesnya lebih tinggi,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com (19/2).

 

Namun menurutnya, untuk meningkatkan user experience ada beberapa hal yang patut diperhatikan. Salah satunya seberapa baik kedua pihak menata BTS dan menata pemanfaatan spektrum.

 

Lebih lanjut menurutnya, kedua pihak juga harus menata dengan baik jaringan Fiber Optik. Karena, jaringan yang masih menggunakan microwave link dinilai susah untuk mengikuti persaingan dengan provider lain.

 

“Kalau misalnya 3 sama Indosat ternyata BTSnya banyak menggunakan microwave link ya susah mau ngalahin Telkomsel,” ujar Nonot.

 

Anggapan ini seiring dengan laporan Open Signal. Menurut Open Signal, pengalaman pengguna Mobile Gaming dan kecepatan unggahan menunjukkan gabungan skor yang tinggi apabila Indosat dan 3 bergabung. Sementara kecepatan unduh dan nonton video masih berada di bawah rata-rata nasional.

 

Namun, menurut Open Signal, butuh waktu bulanan hingga tahunan agar kecepatan internet gabungan dua perusahaan ini bisa meningkat setelah merger.

 

Saingi XL

Lebih lanjut Heru memperkirakan penggabungan Indosat dan 3 bisa membuat keduanya lebih besar dari XL. Saat ini Telkomsel ada di peringkat pertama dengan jumlah pelanggan terbesar, disusul XL.

 

“Setidaknya mereka bisa lebih besar dibanding XL. Dengan lebih besar daripada XL artinya mereka berada di peringkat ke 2. walaupun tidak terlalu dekat ya setidaknya bisa head to head dengan Telkomsel,” ujarnya.

 

Ia mengatakan, kini Telkomsel memiliki jarak yang dianggap jauh dengan operator lainnya, sebab operator pelat merah itu menguasai sekitar 50 persen pengguna seluler di Indonesia.

 

Keunggulan Telkomsel meraup konsumen disebut Heru lantaran operator itu lebih dulu memberikan layanan di Indonesia. Selain itu, jangkauan jaringnan operator ini pun paling luas.

 

Potensi merger XL-Smartfren

Di samping itu, Heru berpendapat akan ada potensi merger lain dari beberapa provider yang tersisa. Yaitu XL dan Smartfren. Hal ini merupakan respons dari Kominfo yang menyarankan untuk perampingan operator seluler.

 

“Sesuai dengan analisis kementerian Kominfo, kedepan diharap hanya ada 3 operator seluler,” ujarnya.

 

Menurut Heru, Smartfren kerap tidak dalam posisi yang menguntungkan karena lebih sering rugi dibanding untung. Jadi menurutnya, dirasa perlu untuk menyelamatkan perusahaan itu.

 

“Smartfren tidak dalam posisi menguntungkan. Kalau kita lihat laporan keuangannya lebih sering rugi dibanding untung. Jadi merger bisa juga untuk menyelamatkan perusahaan,” ujarnya.

 

Selain itu, Heru menilai tidak ada penurunan dan kenaikan tarif yang signifikan imbas dari penggabungan dua perusahaan itu. Ia mengatakan tarif merupakan pertimbangan kompetisi dan segmentasi. Tentunya semua pihak akan melihat tarif para pesaingnya.

 

“Mereka juga memiliki strategi sendiri juga, berapa sih tarif yang mereka (operator lain) berikan ke masyarakat,” kata Heru.

 

Sumber : Cnn

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *