Waspada! Yuk Kenali 3 Cara Penularan DBD

  • Bagikan

Publikbogor.com – Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan dapat mengakibatkan kematian. Berikut tiga cara penularan DBD yang perlu diwaspadai.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2020, kasus DBD sampai dengan pekan ke-49 mencapai sebanyak 95.893, dengan kasus kematian sebanyak 661.

Kasus tersebut tersebar di 472 kabupaten/kota di 34 Provinsi. Dengan kematian akibat DBD terjadi di 219 kabupaten/kota.


Pada fase awal DBD, gejala dan tanda tidak spesifik. Oleh karenanya, patut waspada jika terdapat gejala dan tanda mengarah pada demam berdarah.

Beberapa gejala DBD termasuk muncul bintik-bintik merah atau ruam kulit, demam tinggi mendadak berlangsung sepanjang hari (biasanya ≥ 39º C), badan terasa lemah dan lesu, ujung tangan dan kaki dingin berkeringat, nyeri kepala, nyeri punggung, serta mual dan muntah.

Berikut tiga cara penularan DBD, menurut keterangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

1. Penularan dari nyamuk ke manusia
Virus dengue ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk betina yang terinfeksi, terutama nyamuk Aedes aegypti.

Setelah menginfeksi, virus akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk dalam kelenjar ludah.

Sekitar 8-12 hari setelah mengisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi ekstrinsik).

Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya.

2. Penularan dari manusia ke nyamuk
Sebaliknya, cara penularan DBD juga bisa membuat nyamuk tertular virus dengue dari manusia.

Penularan ini bisa berasal dari seseorang yang memiliki gejala infeksi dengue, seseorang yang belum memiliki gejala infeksi (pre-symptomatic), tetapi juga orang yang tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit (mereka asimtomatik).

Penularan dari manusia ke nyamuk dapat terjadi hingga 2 hari sebelum seseorang menunjukkan gejala penyakit, hingga 2 hari setelah demam mereda.

3. Penularan dari ibu hamil ke bayinya
Cara penularan DBD yang utama adalah antar manusia dengan nyamuk.

Namun, ada bukti kemungkinan penularan ibu (dari ibu hamil ke bayinya).

Sementara tingkat penularan tampak rendah, dengan risiko penularan vertikal tampaknya terkait dengan waktu infeksi dengue selama kehamilan.

Ketika seorang ibu memiliki infeksi DBD saat dia hamil, bayi mungkin menderita kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan gawat janin.


Sumber : CNN

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *